Abstract
Promosi musik alternatif melalui deregulasi televisi dan industri rekaman, bersamaan dengan peningkatan perasaan kehadiran metropolis, bertemu dalam susunan kultural dan lanskap kultural dan fisik orang-orang Bali tahun 1990-an. Pencerminan pembangunan pada masyarakat yang lebih luas, wacana regionalis, yang mempertentangkan ide-ide ‘pusat’ dan ‘pinggiran’, muncul di antara anak-anak muda Bali dalam konteks scene band lokal. Untuk musisi-musisi tertentu, keaslian musikal benar-benar berakar pada kondisi kultural dan geografis, dan terartikulasikan dengan ketidak-senangan mereka untuk bersosialisasi di shopping mall. Berlawanan dengan itu, musisi alternatif Bali ini melihat keaslian pada metropolitan elsewhere (di suatu tempat lain). Artikel ini adalah studi kasus mengenai pelokalan kode ‘global’ pada daerah pinggiran non-barat. Artikel ini mempertentangkan argumen-argumen sifat ‘post-imperial’ dari globalisasi, dan menunjukkan kepentingan yang berkelanjutan dari dialektika pusat-pinggiran pada wacana lokal. Pada saat yang sama, kajian ini memperlihatkan peran progresif superkultur metropolitan yang dapat bermain pada pembaruan kultural daerah pinggiran.
| Translated title of the contribution | Creating a scene: Balinese punk's beginnings |
|---|---|
| Original language | Indonesian |
| Pages (from-to) | 13-37 |
| Number of pages | 25 |
| Journal | Wacana Seni |
| Volume | 24 |
| Issue number | VII |
| Publication status | Published - 2008 |
| Externally published | Yes |
Research output
- 1 Article
-
Creating a scene: Balinese punk's beginnings
Baulch, E., Mar 2002, In: International Journal of Cultural Studies. 5, 2, p. 153-177 25 p.Research output: Contribution to journal › Article › Research › peer-review
32 Link opens in a new tab Citations (Scopus)
Cite this
- APA
- Author
- BIBTEX
- Harvard
- Standard
- RIS
- Vancouver